Data Kebutuhan Pendidikan Pasca Banjir dan Tanah Longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara
Pasca bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara, Pendidikan di sumut menghadapi tantangan yang sangat besar. Dampak kerusakan fasilitas, hilangnya perlengkapan belajar, serta terganggunya kegiatan belajar mengajar menjadi persoalan mendesak yang harus segera ditangani. Untuk memastikan langkah pemulihan berjalan tepat sasaran, BPMP Provinsi Sumatera Utara telah melakukan rekapitulasi kebutuhan pendidikan secara menyeluruh.
Berdasarkan hasil pendataan tersebut, terlihat bahwa kebutuhan logistik pendidikan di wilayah terdampak sangat besar dan bersifat mendesak. Puluhan ribu unit sarana dan prasarana perlu segera disalurkan untuk menggantikan fasilitas yang rusak dan mendukung terselenggaranya kelas darurat. Data ini menjadi rujukan penting bagi pemerintah dalam merumuskan langkah pemulihan yang cepat dan terukur.
Salah satu kebutuhan paling krusial adalah penyediaan tenda sebanyak 331 unit. Tenda-tenda ini difungsikan sebagai ruang kelas sementara untuk memastikan proses belajar tetap berjalan meskipun bangunan sekolah mengalami kerusakan. Kebutuhan tertinggi tercatat di wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah yang terdampak paling signifikan.
Selain ruang kelas darurat, kebutuhan meja dan kursi belajar juga sangat tinggi, mencapai 10.648 unit. Kota Medan menjadi wilayah dengan jumlah kebutuhan terbesar, yakni hingga 7.000 unit. Perlengkapan ini dibutuhkan agar siswa dapat belajar dengan nyaman meski berada di lokasi sementara.
Tidak hanya fasilitas fisik, kebutuhan energi juga menjadi tantangan utama. Sebanyak 132 unit genset diperlukan untuk menyediakan penerangan serta mendukung kegiatan pembelajaran di wilayah darurat yang belum memiliki pasokan listrik memadai. Genset ini menjadi vital terutama di lokasi yang masih sulit dijangkau.
Di sisi lain, konektivitas menjadi aspek penting untuk menjaga keberlangsungan pembelajaran. Sebanyak 163 unit perangkat Starlink dibutuhkan untuk memastikan akses internet bagi sekolah-sekolah yang harus melaksanakan PBM daring atau membutuhkan sarana komunikasi pada masa pemulihan. Ketersediaan koneksi yang stabil sangat membantu koordinasi dan proses administrasi pendidikan.
Perlengkapan alat tulis menulis juga menjadi kebutuhan yang sangat besar, yakni sebanyak 73.647 set. Banyak siswa kehilangan perlengkapan belajar mereka akibat
banjir dan longsor, sehingga penyediaan alat tulis menjadi langkah penting untuk memastikan mereka dapat kembali mengikuti pembelajaran tanpa hambatan.
Terkait status pelaksanaan PBM di wilayah terdampak, kabar baik datang dari sebagian besar daerah yang melaporkan bahwa kegiatan belajar “sudah terlaksana” atau bahkan “sudah berjalan normal”. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemulihan awal telah memberikan hasil yang positif, meskipun fasilitas fisik masih dalam tahap perbaikan.
Namun demikian, beberapa wilayah seperti Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Langkat masih melaporkan bahwa PBM “belum terlaksana”. Ketiga wilayah ini kini menjadi prioritas utama percepatan bantuan logistik dan pemulihan sarana. Diperlukan intervensi cepat agar proses belajar di daerah tersebut dapat segera pulih.
Perlu digarisbawahi bahwa meskipun sebagian besar daerah sudah kembali melaksanakan PBM secara normal, upaya pemulihan infrastruktur sekolah serta dukungan psikososial bagi siswa tetap harus terus dilakukan. Pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali fasilitas, tetapi juga memastikan ketahanan mental dan sosial peserta didik.
Data yang dihimpun BPMP Sumatera Utara ini menjadi acuan utama bagi Kemendikdasmen dan UPT terkait dalam menyalurkan bantuan secara tepat sasaran. Dengan kolaborasi semua pihak, diharapkan hak pendidikan anak-anak Sumatera Utara tetap terpenuhi, dan proses belajar dapat kembali berlangsung aman, nyaman, dan berkelanjutan.


